Sejarah Persija Jakarta yang Mendapatkan Julukan Macan Kemayoran

Macan Kemayoran - Mirror Advertising

Setiap tim di dunia memiliki berbagai julukan masing-masing sebagai penanda jati diri klub tersebut dan hal itu juga termasuk salah satu tim kebanggan Ibu Kota Indonesia, Persija Jakarta. Tim satu ini mendapatkan julukan sebagai Macan Kemayoran dan sudah melekat sejak lama.

Tentunya banyak orang yang bertanya-tanya mengapa Persija Jakarta mendapatkan julukan sebagai Macan Kemayoran. Untuk mengetahui seperti apa sejarah julukan tersebut, simak ulasannya di bawah ini.

Sejarah nama Macan Kemayoran

Jika dilihat dari sejarahnya, nama Macan Kemayoran ternyata berasal dari seorang jagoan asal Betawi yang bernama Murtado. Walaupun dia tidak terkenal sepert SI Pitung atau Si Jampang, akan tetapi kehebatan bela diri Murtado konon sama kuatnya dengan mereka.

Berbagai bukti kesaktian Murtado sering muncul dalam buku-buku cerita rakyat Betawi. Cerita Murtado sering dikaitkan dengan keberanian orang-orang Betawi yang menentang sikap Belanda dan itu ada dalam buku karangan Amanda Clara berjudul Cerita Rakyat Dari Sabang Merauke (2008).

Kisah perjalanan Murtado

Murtado dikisahkan lahir sekitar tahun 1869 dan terkenal sangat berani dalam membela rakyat dari segala macam bentuk kejahatan baik itu dari rakyat biasa hingga para tentara Belanda. Karena sikapnya yang selalu membantu warga Kemayoran, maka dia mendapatkan julukan sebagai Macan Kemayoran dan terkenal di daerah Batavia.

Murtado juga tidak pernah kehabisan semangat dalam membela rakyat dan kelak jika ada kejahatan, maka orang pertama yang menantang hal tersebut adalah Murtado. Hal tersebut berlaku pada orang biasa maupun para tentara Belanda seperti yang sudah disebutkan sebelumnya.

Sempat Mendapatkan Penawaran dari Belanda

Murtado yang terkenal berani dan tidak kenal takut membuat Belanda pun ikut takut sehingga terjadilah berbagai penawaran untuk dia. Penawaran tersebut berupa harta berlimpah agar Murtado mau bekerja sama dengan Belanda.

Namun, Murtado tetap dengan pendiriannya dan memilih membela warga Kemayoran. Setelah itu, Murtado pun menjadi sosok yang begitu ditakuti dan menjadi teladan untuk warga Kemayoran tersebut.

Gambaran dari Tokoh Betawi

Tokoh muda Betawi bernama Masykur Isnan juga menggambarkan sosok Murtado sebagai representasi dari orang-orang Betawi, yakni pandai bela diri, rendah hati, sederhana, dan juga sering menolong orang yang lemah.

Dari hal itulah Murtado sering dianggap sebagai legenda di tanah Betawi karena memiliki keberanian dan juga semangat untuk membela orang lemah hingga mendapat julukan Macan Kemayoran. Sebuah Julukan untuk penegasan kalau Jiwa Murtado tidak kenal takut dan bisa menerkam siapa saja yang berbuat jahat di sekitar Kemayoran.

Sosok Macan di Batavia

Selain cerita dari sosok Murtado, Macan Kemayoran juga berasal dari hewan macan yang benar-benar ada di daerah Batavia. Bukti tersebut ada di dalam sebuah surat kabar Java Bode tahun 1882 yang memuat laporan kalau ada keberadaan macan yang berkeliaran di sekitar hutan Batavia.

Perburuan Macan di Batavia

Sekitar tahun 1644, Gubernur jenderal VOC saat itu, Joan Maetsuycker memberitakan bahwa dia dengan tiga ratus orang lainnya pernah berburu banteng di daerah Welterreden (saat ini dinamakan lapangan Banteng) yang saat itu merupakan hutan. Tidak hanya banteng saja, tetapi disana juga da harimau (macan), babi dan beragam satwa liar lainnya.

Hal itulah yang membuat daerah tersebut sangat terkenal sebagai tempat berburu orang-orang Belanda yang juga didukung oleh pemerintah kolonial.

Bukti tentang Macan di Batavia

Selain surat kabar tadi, ada juga bukti lainnya tentang keberadaan Macan Kemayoran melalui buku Batavia Masyarakat Kolonial Abad XVII (2012).  Di dalam buku tersebut diceritakan banyak sekali macan yang berkeliaran di sekitar semak-semak dan bahkan beberapa kali muncul di sekitar tembok Kota Batavia.

Demikian sejarah julukan Macan Kemayoran pada tim Persija Jakarta yang ternyata memiliki dua versi, yakni dari seorang Jagoan bernama Murtado dan sosok hewan macan asli di Jakarta pada zaman kolonial.