Pendidikan pra sekolah di Indonesia

Pendidikan prasekolah sangat penting bagi pembangunan mental psikis dan kemampuan bersosialisasi anak. Anak yang mendapatkan pendidikan prasekolah cenderung berhasil melewati setiap jenjang pendidikan formal. Dengan kata lain anak-anak yang pernah mengenyam pendidikan prasekolah memiliki peluang yang besar untuk berhasil ditahap pendidikan sekolah dasar.kampus swasta terbaik

Dalam dunia pendidikan sudah sangat disadari bahwa Begitu pentingnya pendidikan prasekolah membuat gerakan untuk mensosialisasikan pendidikan prasekolah semakin digiatkan oleh kementrian pendidikan Keikutsertaan anak dalam pendidikan prasekolah adalah salah satu indikator dalam pengukuran indikator pendidikan seumur hidup (longlife learning education).

SEBUAH perusahaan pelayanan pendidikan di Jepang melakukan survei pada para ibu berusia 4-6 tahun tahun lalu terkait pendidikan anak usia prasekolah di beberapa negara, termasuk Indonesia.
Benesse Educational Research and Development (BERD) Institute milik Benesse Corporation tersebut juga melibatkan para ibu dari Finlandia, China, dan Jepang. Di Indonesia, survei dilakukan kepada 900 responden yang berdomisili di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Direktur PT Benesse Indonesia Daisuke Okada menyebutkan bahwa survei tersebut bersifat wawancara melalui kunjungan rumah. “Poin yang disurvei antara lain waktu kebiasaan anak terkait media pembelajaran, sudut pandang orang tua terkait pengasuhan dan pendidikan untuk anak, harapan untuk masa depan anak, kemampuan sosial emosional anak, waktu yang dihabiskan bersama anak, dan sebagainya,” tukasnya dalam keterangan pers yang diterima medcom.id.

Pengertian Pendidikan prasekolah adalah pendidikan yang diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, baik melalui jalur pendidikan formal maupun nonformal. Dalam UU RI No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, dijelaskan bahwa pendidikan prasekolah atau Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Berdasarkan undang-undang tersebut bapak-ibu sudah tahu bahwa alasan sekolah dasar untuk menerima siswa siswi dengan umur paling tidak 6 tahun Tidak sembarangan. Bukan alasan dibuat-buat atau alasan lain seperti tidak siap membimbing anak yang lebih muda. Undang-undang tersebut juga menerangkan bahwa diharapkan adanya rangsangan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak.

Pendidikan prasekolah dibagi menjadi dua yaitu pendidikan prasekolah secara formal dan pendidikan prasekolah secara nonformal.

Contoh satuan pendidikan prasekolah pada jalur pendidikan formal adalah taman kanak-kanak (TK), Bustanul Athfal (BA)/ Raudhatul Athfal (RA), dan bentuk-bentuk lainnya.

Contoh satuan pendidikan prasekolah pada jalur nonformal adalah PAUD terintegrasi Bina Keluarga balita atau posyandu, kelompok bermain Taman penitipan anak dan bentuk-bentuk lainnya.

Keuntungan yang didapat setelah anak mengikuti pendidikan prasekolah

Umumnya anak-anak yang tidak terbiasa untuk menerima teman baru atau lingkungan baru akan mengalami depresi dan ketertinggalan karena alasan tidak dapat menyesuaikan dengan lingkungan baru di sekolah. Banyak penelitian menyatakan bahwa tekanan yang dirasakan anak-anak yang baru masuk sekolah dasar dapat memberi dampak secara berkepanjangan terhadap mental anak-anak di sekolah. Sehingga dengan mengikutkan anak-anak pada pendidikan prasekolah diharapkan anak-anak sudah sangat siap untuk melanjutkan pendidikan di sekolah dasar, baik dengan model pembelajaran baru maupun bertemu dengan teman-teman yang memiliki banyak karakter.

Berikut adalah lima fakta yang didapat dari survei tersebut.

1. Kebiasaan bangun tidur

Anak-anak Indonesia tercatat bangun tidur lebih awal. Alasannya, Indonesia memiliki banyak kegiatan di pagi hari dan bagi anak-anak pemeluk agma Islm harus melakukan salat Subuh. Pada hari biasa, anak Indonesia yang bangun tidur sebelum pukul 05.30 mencapai 11,1 persen dan yang bangun pada pukul 06.00 mencapai 31,9 persen. Sementara itu, anak-anak di tiga negara lainnya (Jepang, China, dan Finlandia) yang bangun tidur pada pukul 05.30 hanya mencapai kurang dari  tiga persen. Adapun, yang bangun pada pukul 06.00 hanya kurang dari 13 persen. Sementara, anak-anak di Jepang, China, dan Finlandia terbiasa bangun tidur pada pukul 07.00.

2. Waktu di sekolah informal

Hasil survei mengungkapkan bahwa 89,8 persen persen anak Indonesia menghabiskan waktu kurang dari 4 jam di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sebaliknya, anak-anak di negara lain justru banyak menghabiskan waktu di PAUD hingga lebih dari 8 jam. Setengah dari anak-anak di China yang menghabiskan waktu lebih dari 8 jam di PAUD, durasi serupa juga terjadi pada anak-anak di Finlandia (44 persen) dan Jepang (10 persen). Profesi ibu yang juga sebagai pekerja adalah penyebab mengapa anak-anak di tiga negara tersebut lebih lama menghabiskan waktu di PAUD.

3. Pola pengasuhan

Bagi Ibu di Indonesia, ada tiga hal yang memerlukan usaha paling besar dalam mengasuh anak. Pertama, yaitu menerapkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, seperti menyikat gigi, mandi, dan sebagainya (66.9 persen), lalu usaha menjaga kesehatan tubuh (64.8 persen), dan main bersama orang tuanya (56.7persen). Dalam studi longitudinal, perkembangan pada usia prasekolah (3-6 tahun) yang dilakukan oleh BERD, anak-anak yang menguasai kebiasaan hidup pada usia 3-4 tahun akan memiliki kemampuan sosial emosional yang lebih baik pada usia4-5tahun.  Kemampuan sosial emosional tersebut berhubungan dengan perkembangan aspek kognitif seperti huruf, angka, dan kemampuan berpikir. Oleh karena itu, menanamkan kebiasaan hidup sejak dini sangat penting untuk mengembangkan aspek kognitif dan afektif anak.

4. Harapan orang tua terhadap masa depan anak.

Para ibu Indonesia di Indonesia mengharapkan anaknya menjadi orang yang menyayangi keluarga (75,8% persen), orang yang memiliki sikap kepemimpinan (53,1 persen), dan orang yang bisa memanfaatkan kemampuan tinggi dalam pekerjaan (35 persen). Serupa dengan ibu di Indonesia, ibu di China (77,9 persen) dan Finlandia (81,7 persen) juga menginginkan anak mereka menjadi orang yang menyayangi keluarga. Hanya para ibu di Jepang yang berharap anak mereka menjadi orang yang memiliki pendirian atau pendapat sendiri (72,3 persen).
5.Sosok seorang anak di mata ibu

Para ibu di Indonesia menilai bahwa anak adalah sosok yang mewarisi keturunan keluarga untuk masa depan (64,3 persen), sosok yang akan mengurus orang tua di masa yang akan datang (57,9 persen), dan sosok yang bisa mengabulkan cita-cita orang tua (57,0 persen). Tiga penilaian tersebut merupakan hasil survei yang unik dari Indonesia, karena 30 poin lebih tinggi dibandingkan negara lain. Sementara, para ibu di Jepang (66,6 persen) dan Finlandia (98,9 persen) menilai bahwa anak adalah sosok yang memakmurkan kehidupan sehari-hari. Adapun ibu di China menilai bahwa anak adalah sosok yang mempunyai karakter atau kepribadian yang berbeda dengan orang tua (81,2 persen). Melihat fakta tersebut, Ketua Asosiasi Pendidikan Guru PAUD, Dr. Sofia Hartati., M.Si, mengemukakan bahwa sangatlah penting untuk melakukan pendidikan sejak usia dini. Menurutnya, pendidikan yang baik untuk anak-anak pada usia ini adalah bermain bersama orangtua, menghabiskan waktu bermain sambil belajar. “Dan juga penting bagi anak-anak untuk mulai menanamkan kebiasaan hidup yang baik sejak dini, karena ini akan berdampak kepada pertumbuhan motivasi dan kepercayaan diri anak untuk melakukan banyak hal di masa depan,”