Masker Skuba Dapat Menangkal Virus Korona?

main image

Di masa pandemic virus korona semua orang diwajibkan untuk selalu mematuhi protocol kesehatan, salah satunya untu selalu memakai masker saat keluar rumah. Dewasa ini masker banyak ditemukan di mana-mana, baik di supermarket, warung, bahkan di pinggir jalan raya. Biasanya masker yang di jual di pinggir jalan kebanyakan masker skuba. Masker skuba sendiri adalah masker kain 1 lapis yang banyak dipakai karena memiliki bahan kain yang elastis. Namun, baru-baru ini kementrian kesehatan mengumumkan bahwa masker skuba tidak disarankan untuk dipakai, karena tidak efektif dalam menangkal virus maupun bakteri yang mana bahan yang dipakai tipis dan kemungkinan partikel virus dan bakteri dapat tembus. Setelah diumumkan tidak bolehnya memakai masker skuba, PT Kereta Commuter Indonesia (PT KCI) yang mewajibkan penumpangnya mengenakan masker selama naik kereta rel listrik (KRL) juga menghimbau penumpangnya untuk tidak mengenakan masker tersebut.

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menanggapi larangan penggunaan masker skuba dan buff di dalam commuterline. Beliau mengatakan bahwa masker skuba dan buff kuranf efektif untuk menagkal virus korona. Masker skuba biasanya mudah ditarik ke leher sehingga penggunaannya menjadi tak efektif sebagai pencegahan. Menurutnya, masker menjadi alat penting dalam mencegah penularan virus corona sehingga masyarakat perlu memakai masker yang berkualitas seperti masker N95, masker bedah atau masker kain katun tiga lapis. Lalu, berdasarkan penelitian Universitas Oxford, kain katun mempunyai tingkat ketahanan dari penularan virus corona sebesar 70 persen. Namun, apabila sudah terlanjur membeli masker skuba dapat diakali dengan memasukkan tisu yang dilipat menjadi tiga bagian di dalam masker kain.

Sementara itu, Peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersih (LPTB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Eng Muhamad Nasir menjelaskan dasar pengujian kinerja utama masker, yaitu uji filtrasi bakteri (bactrial fitritation efficiency), uji filtrasi partikulate (particulate filtration efficiency), dan uji permebilitas udara dan pressure differential (breathability dari masker). Menurutnya, masker kain dengan bahan lentur seperti skuba dan buff, saat dipakai akan terjadi perenggangan bahan sehingga kerapatan dan pori kain membesar serta membuka dan membuat permeabilitas udara menjadi tinggi. Hal itulah yang membuat peluang partikel-partikel virus dan bakteri untuk menembus masker semakin besar.

Peneliti di Pusat Penelitian Biomaterial LIPI, Dian Burhani, S.Si, M.T mengungkapkan, bahwa salah satu faktor yang menentukan efektivitas masker untuk mencegah penyebaran virus corona yaitu ukuran pori material bahan, menurutnya virus korona ditularkan melalui doplet, oleh karena itu supaya efektif ukuran pori-pori bahan masker harus lebi kecil dari ukuran droplet, tentunya untuk menangkal penyebaran virus dan bakteri yang dikeluarkan melalui mulut sendiri maupun mulut orang lain saat berbicara, bersin atau batuk. Beliau juga menambahkan, apabila masker skuba dibandingkan dengan masker N95 yang memiliki bahan pori 14 mikron, masker skuba memiliki pori lebih besar sekitar 30-40 mikron. Selain ukuran porinya lebih besar, hal lain yang membuat masker skuba diragukan efektivitasnya karena masker tersebut hanya satu lapis, yang mana khawatir apabila droplet menempel pada bagian luar masker dan lama-lama meresap melalui pori masker, yang kemudian akan langsung mengenai mulut dan hidung. Lebih baik menggunakan masker katun tiga lapis saja dibandingkan masker skuba. Tetapi, apabila ingin efektivitas maskernya lebih tinggi, bisa menggunakan masker N95 dan masker medis.