Hukum Nikah Siri

Nikah siri boleh atau tidak? Di negeri kita Indonesia memang sudah tidak asing lagi mendengar kabar tentang pernikahan secara agama atau siri.

Bahkan mungkin itu terjadi pada saudara, tetangga, atau teman kita, bahkan ini juga dilakukan oleh kalangan papan atas seperti pejabat negara ataupun publik figur artis.

Untuk itu perlu kita ketahui mengenai hukum pernikahan secara agama ini.

Setidaknya memiliki dasar pengetahuan untuk menimbang tentang resiko pernikahan secara siri ini jika itu terjadi pada diri Anda, saudara, teman atau tetangga kita nantinya.

Hukum Nikah Siri

Hingga kini masih sering menjadi perdebatan, bagaimana hukum nikah secara siri dari sisi negara atau hukum?

Nikah Siri berasal dari kata ‘sirri’ atau ‘sir’ yang berarti rahasia dan tidak ditampakkan.

Artinya, pernikahan ini biasanya bersifat pribadi dan undangan hanya terbatas atau orang terpilih saja.

Melansir Hukum Online nikah siri diatur dalam UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Dalam pasal tersebut menjelaskan, nikah siri adalah perkawinan yang dilakukan secara agama namun tidak dicatatkan.

Nikah siri hukumnya sah secara agama, asalkan memenuhi semua rukun-rukun yang tertera.

Bagi yang beragama Islam, syarat sah pernikahan siri harus memenuhi rukun nikah berikut ini:

  1. Calon suami
  2. Calon istri
  3. Wali nikah
  4. 2 orang saksi
  5. Ijab dan kabul

Pada Pasal 2 ayat (2) UU Perkawinan tertulis bahwa tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Tertulis pula dalam Pasal 5 Kompilasi Hukum, pasangan yang beragama Islam mengharuskan setiap perkawinan dicatat oleh Kantor Catatan Sipil.

Tak lain, tujuannya agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam.

Karena nikah siri tidak dicatatkan ke KUA, maka pasangan yang menikah siri tidak memiliki buku nikah sebagai bukti pengakuan negara.

Oleh karena itu, membuat surat nikah siri menjadi salah satu langkah yang diambil sebagai bukti keterangan menikah lewat jalur agama.

Itulah kilasan mengenai hukum pernikahan siri yang bisa menjadi acuan dasar jika berencana untuk melakukan pernikahan secara agama.