10 Proses Pertahanan Ego (Defense Mechanism) Pada Diri Manusia

Sebagai manusia kita mempunyai pemikiran, hati, stimulan, dan memory yang susah untuk kita temui di kehidupan setiap hari. Beberapa dari kita yang memercayakan proses pertahanan (defense mechanism) saat alami hati yang susah untuk diutarakan. Secara tidak sadar, tanggapan psikis kita aktifkan proses pertahanan diri membuat perlindungan kita dari hati resah, teror pada rasa optimis kita, dan suatu hal yang tidak mau kita bermasalah atau pikir (Cramer, 2015).

10 Proses Pertahanan Ego (Defense Mechanism) Pada Diri Manusia

Istilah itu pertama kalinya dipakai pada therapy psikoanalitik, tetapi perlahan-lahan mulai ada dengan bahasa setiap hari kita. Satu contoh mengenai proses pertahanan ego yang barangkali sempat kamu atau seseorang alami ialah denial.

Apakah itu Proses Pertahanan?

Proses pertahanan ialah strategi yang diperkembangkan oleh ego membuat perlindungan dari rasa resah (Waqas dkk., 2015). Istilah itu kerap dipakai Sigmund Freud dalam teori psikoanalitik. Dalam misalnya, proses pertahanan sebagai pemikiran yang usaha untuk menahan ide yang tidak patut atau mungkin tidak diharapkan masuk alam sadar kita.

Bagaimana Langkah Kerja Proses Pertahanan?

Dalam mode personalitas Sigmund Freud, ego ialah faktor personalitas yang hadapi realitas. Saat ada pada kondisi itu, ego harus juga menangani tuntutan perselisihan yang bertubrukan di antara id dan superego.

– Id : Sebagai faktor personalitas yang usaha untuk penuhi kemauan, keperluan, dan stimulan. Id dapat dihubungkan sebagai hal paling dasar dan sisi primitif yang ada pada semua personalitas kita yang tidak mengutamakan kesopanan sosial, kepribadian, dan realitas yang ada saat penuhi keperluan dan kemauan kita.
– Superego : Sebagai sisi dari personalitas yang mengupayakan ego untuk melakukan tindakan dengan cara yang idealistik dan mempunyai nilai kepribadian. Superego tercipta dari kepribadian yang sudah diinternalisasikan dan berdasarkan dari nilai yang sudah kita peroleh lewat keluarga, bagian keluarga lain, dampak spiritual, dan warga.

Waqas dkk. (2015) memiliki pendapat jika dalam rencana untuk hadapi kegundahan, Freud memercayai jika proses pertahanan ego menolong membuat perlindungan ego dari perselisihan yang dibikin oleh id, superego, dan realitas. Tetapi apa yang terjadi bila ego tidak bisa menangani tuntutan dari kemauan kita, desakan yang diberi oleh realitas, dan standard kepribadian kita sendiri?

Freud memiliki pendapat jika rasa resah sebagai keadaan kondisi batin yang tidak membahagiakan membuat beberapa orang menghindari. Kegundahan itu bertindak selaku signal ke ego jika suatu hal terjadi dengan ganjil. Mengakibatkan, ego melepaskan proses pertahanan untuk menolong kurangi hati resah itu (Waqas dkk., 2015).

10 Tipe Proses Pertahanan yang Kerap Dipakai

Berikut 10 proses pertahanan yang kerap kita pakai dengan tidak sadar:

1. Denial

Sebagai proses pertahanan ego yang tersering kita temui. Denial terjadi saat kita menampik untuk terima realitas atau bukti yang berada di hadapan kita. Memblok peristiwa itu dari pemikiran hingga tak perlu hadapi dampak emosional yang terjadi. Secara gampangnya, kita menghindar realitas yang sebetulnya telah banyak diakui oleh seseorang.

2. Represi

Pemikiran, memory, atau keyakinan yang jelek mengenai masa lampau bisa jadi membuat kamu terusik. Dibanding harus hadapi hal yang membuat kamu terusik, kita bisa jadi secara tidak sadar memutuskan untuk sembunyikannya dengan keinginan dapat lupakan hal itu secara detail

Meskipun memory itu sudah lenyap seutuhnya, masih tetap ada peluang jika hal itu bisa mempengaruhi sikap kita dan ada peluang berpengaruh pada rekanan kita pada seseorang di periode kedepan.

3. Proyekion

Kamu barangkali sempat berasa hati atau pemikiran yang mengusik pada seseorang detil, pada kasus tertentu kamu memproyeksikan hati kamu jadi sebaliknya. Contoh dari defense mechanism berupa prediksi ialah kamu tidak menyenangi rekan barumu, dibanding kamu terima bukti jika kamu tidak menyenangi orang itu, kamu memutuskan untuk memberitahu diri kamu sendiri jika rekan barumu membenci diri kamu.

4. Displacement

Kamu salurkan rasa emosi dan frustasi yang kuat pada seorang atau suatu hal yang tidak mempunyai imbas pada diri kamu secara negatif. Cara itu bisa penuhi stimulan kita dalam bereaksi tak perlu memikul risiko yang berat. Misalnya ialah saat kamu membentak adikmu karena kamu alami hari jelek karena sudah dimarahin oleh dosenmu karena tidak bisa jawab pertanyaan. Adikmu bukan sumber khusus kenapa hari kamu menjadi jelek, tapi membentak adikmu tidak membuat keadaan lebih tegang bila kamu geram langsung pada dosenmu.

5. Regression

Orang yang berasa terancam atau resah kemungkinan secara tidak sadar lakukan ‘pelarian’ secara sama dengan sikap saat kecil. Saat kita alami trauma atau kehilangan, kita kemungkinan melakukan tindakan seperti saat kita masih kecil. Tidak kecuali sama orang dewasa, orang dewasa yang kesusahan untuk hadapi peristiwa atau sikap memungkinkan untuk makan atau merokok terlalu berlebih atau jadi kasar secara verbal.

6. Rationalization

Kita usaha untuk menerangkan sikap yang tidak diharapkan dengan sebuah ide bukti yang kita bikin sendiri. Dengan itu, kita berasa semakin nyaman dengan opsi yang sudah dibuat, meskipun dengan sadar kita mengetahui jika hal itu tidak betul.

7. Sublimation

Proses pertahanan diri yang disebutkan cukup positif karena orang yang lakukan proses itu memutuskan untuk salurkan emosi atau hati yang kuat pada benda atau kegiatan yang aman dan tepat. Misalnya ialah kamu memutuskan untuk olahraga sesudah alami hari dengan penuh frustasi.

8. Reaction Formation

Mengganti hati yang kita kenali jadi kebalikannya. Saat orang itu alami rasa frustasi, mereka cenderung pilih untuk bereaksi secara terlampau positif

9. Compartmentalization

Pisahkan hidup yang ada pada beragam bidang membuat perlindungan beragam bidang lainnya. Kebingungan? Contoh simpelnya ialah saat kamu alami permasalahan individual dalam kehidupan, kamu usaha untuk tutupi itu dari lingkungan kerja hingga kamu tak perlu berasa resah atau ketekan saat ada di lingkungan kerja.

10. Intellectualization

Saat alami periode susah, orang dengan proses pertahanan Intellectualization condong untuk berpikiran mengenai peristiwa itu dengan pahami dan memelajari peristiwa itu. Langkah proses bertahan itu memungkinkannya pribadi untuk terbebas dari pertimbangan yang terkait dengan keadaan depresi dari faktor emosional dan usaha untuk konsentrasi pada elemen cendekiawan atau memberi pengetahuan pada pribadi itu.

 

kunjungi juga website tentang pendidikan terpercaya